Minggu, 12 Oktober 2008

Nah Loh Jadinya Krisis, Masih Ngebet Pengen Bebas?

waduh, ekonomi sedang dalam ancaman. lampu kuning sudah menyala, lagi-lagi katanya karena para spekulan dan adanya isu-isu yang tidak bertangung jawab. ujungnya ya nyalahin nasib buruk lagi, seakan-akan tak ada yang salah dengan apa yang dijalankan saat ini.

memang benar krisis pasar modal bukan ekonomi, saya juga ngak peduli ama kalo bursah jadi jeblok, toh yang rugi dah pada kaya-kaya malah banyakan asingnya. justru indeks yang turun harus dijadikan berkah dan kesempatan buat kita beli saham.
tapi masalahnya gimana kalo mereka pada beli dolar, jatuh deh nantinya rupiah. kalo sudah begitu, kita-kita lagi yang repot. mau tuh barang harganya jatuh di pasar internasional, tetap saja mahal di sini (walau para importir bakal tertawa senang).

jadi deh, si omon (otoritas moneter) naikin bunga, katanya biar ngak lari tuh duit. tapi saat yang lain nuruni bunga, jadinya lah si omon orang baik yang bagi-bagi duit buat orang-orang kaya di luar sana. asik juga ya kalau punya uang banyak, ngak perlu kerja bisa dapat banyak duit?

weleh-weleh, lama-lama makin pusing aja memandang indonesia. sekarang aja kalau dah krisis semua minta pemerintah membereskan semua, bahkan mereka (yang ngakunya internasionalis liberalis tapi benarnya kapitalis) bilang pemerintah tuh lelet banget ngurusi krisis yang jadinya semakin parah. padahal dulu mereka bilang pemerintah tuh ngak usah ngurusin ekonomi, urusin aja masalah keamanan dan administrasi, jangan ganggu-ganggu gwe dah (kata mereka tuh).
memangnya pemerintah itu tong sampah? kalau busuk dikasih ke pemerintah, kau matang diambil sama mereka? padahal yang buat krisis tuh kan mereka????

tahun 1997 juga begitu kan? karena pakto 88 yang terlalu bebas, akhirnya keserakahan mereka membuat bangsa ini terjerumus dalam krisis dan menanggung utang mereka yang kini enak-enakan hidup di singapura dan jalan yang nama bunga itutuh.

padahal tahun 30-an, om keynes sudah capek-capek mikir dan solusinya pemerintah harus punya peran signifikan dalam perekonomi. supaya ekonomi bisa lebih berjalan sambil mengerem keserakahan segelintir pihak. kok sekarang kita mau balik lagi ke jaman purba ngak pakai peran pemerintah dalam ekonomi?

apa jadinya kalau BUMN kita habis dijual. siapa yang mau buy back? karena itu, privatisasi jangan sampai dijadikan ajang denasionalisasi. privatisasi adalah alat untuk mentransparankan BUMN kepada publik yakni kepada rakyat, bukan jadi tujuan menyerahkan peran negara kepada para pengusaha.

sekali lagi kita dapat pelajaran penting. bahwa yang namanya orang asing belum pasti lebih pintar dari kita. yang namanya swasta belum pasti bebas korupsi. yang namanya BUMN belum tentu jadi borok negara. yang penting adalah sebuah sinergi antara keduanya. negara dan swasta harus berjalan bersama. bukan lantas menghilangkan salah satunya.

pemerintah tanpa swasta pasti akan berjalan lambat, tapi swasta tanpa negara akan berjalan tanpa arah. jadi masih mau bebas-bebasan???

Senin, 06 Oktober 2008

Saatnya membalik pancasila??

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memang merupakan sesuatu yang tidak perlu di ragukan lagi. Karena ia sudah berbicara mengenai banyak hal, masalah religi, ekonomi, politik, hingga tatanan sosial. Sehingga menurutku pancasila adalah jalan terbaik untuk bangsa ini.

Namun apa yang telah terjadi sebenarnya, mengapa sampai kini setelah 63 tahun kita merdeka pancasila tak pernah berdiri tegak di bangsa ini? Jangankan sila ke-5 ataupun ke-4, sila ke-3 dan ke-2 saja terasa masih merupakan sebuah impian.

Bangsa ini masih tega menipu saudaranya sendiri bahkan memeras mereka yang membanting tulang untuk hidup, dimana kemanusiannya? Bangsa ini masih diteror disintegrasi bahkan ada yang hendak menyatukan diri dalam pemerintahan dunia, dimana persatuannya? Bangsa ini masih tak bisa berdiskusi dan saling memaksakan pendapat, dimana permusyawaratannya? Bangsa ini tetap saja merana di dalam kemiskinan, dimana keadilan sosialnya?

Bangsa ini masih terus terjebak akan penentuan hari lebaran, pembangunan rumah ibadah, kuota tuk pergi ke arab saudi, bahkan mempermasalahkan golongan. Ada apa sebenarnya? Mengapa kita tak bisa melangkah maju ke depan walaupun orde yang menyesakkan tlah hilang ditelan sejarah?

Adakah ini karena kita salah memandang pancasila, haruskah kita melihatnya dari bawah ke atas, ya kerennya dari akar rumput baru kepada elit.

Mungkin bila keadilan sosial tercapai, maka rakyat kita akan dapat mengakses pendidikan yang layak dan mengikuti perkembangan kebangsaan dengan lebih baik. Sehingga dengan akal dan logika yang lebih baik, ia dapat berdiskusi berdemokrasi dengan lebih baik dan bermusyawarah membentuk perwakilan. Dengan bermusyawarah dan perwakilan yang adil, kesatuan dan persatuanpun akan terwujud. Yang mana dengan bersatu, tak ada lagi eksploitasi individu oleh individu lainnya sehingga masyarakat memiliki nilai kemanusiaan yang lebih beradap. Dan tentunya bila memandang manusia saja ia sudah adil dan beradap apalagi bila ia memandang Tuhan YME.

Haruskah kita membalik pancasila untuk mewujudkannya secara hakiki? Atau memang tak ada jalan bagi bangsa yang terjajah untuk sejahtera???